Langsung ke konten utama

Menciptakan Lingkungan Sekolah Tanpa Kekerasan

 


Belakangan ini kasus bullying semakin marak terjadi di Indonesia, khususnya di lingkungan sekolah. Tentu saja tindakan itu tidak semestinya terjadi di tempat anak-anak sedang menuntut ilmu.


Menanggapi hal tersebut, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FIP UMJ), Dr. Sri Immawati, M.Pd., memaparkan beberapa faktor penyebab terjadinya bullying dan upaya strategi pencegahannya.


Menurut Sri, bullying berhubungan erat dengan tawuran. Bullying adalah definisi tindak kekerasan di sekolah yang memiliki beberapa macam jenis, di antaranya berupa kekerasan fisik, psikis, ekonomi, status sosial, dan lain sebagainya. “Itu merupakan bagian dari tawuran, artinya anak-anak yang tawuran umumnya melakukan bullying,” jelas Sri.


Sri menilai, faktor utama penyebab seseorang melakukan bullying berasal dari lingkungan keluarga. Kondisi keluarga yang tidak harmonis atau broken home, kurangnya perhatian seorang anak dari keluarga terdekat, dan pendidikan yang kurang tepat bagi anak sehingga menyebabkan pembentukan perilaku yang kurang baik.


Faktor kedua adalah adanya pengaruh dari senior yang berada di lingkungan sekolah. Secara umum, seorang siswa dapat melakukan kekerasan karena dipengaruhi oleh lingkungan teman sebayanya yang juga melakukan hal serupa. Selain itu, adanya sikap senioritas yang berada di lingkungan sekolah juga mendorong terjadinya tindak kekerasan atau bullying, di mana yang menjadi korbannya adalah junior yang lemah.


Faktor ketiga adalah kesadaran diri dari pelaku bullying untuk melakukan tindak kekerasan. “Ada kasus di mana siswa memang sudah mencari sekolah yang melakukan tawuran. Sebelum memasuki sekolah, biasanya siswa sudah melakukan analisis terhadap beberapa sekolah, sehingga tujuan utamanya bukan hanya belajar tetapi juga untuk melakukan tawuran dan menjadi bagian dari komunitas tersebut,” kata Sri.


Lalu, bagaimana langkah yang tepat untuk mencegah terjadinya bullying atau kekerasan di lingkungan sekolah?


Berbicara mencegah, berarti harus mengobati. Berdasarkan realita yang terjadi di lapangan, hampir setiap hari tawuran terjadi di kalangan pelajar. Secara umum orang tidak mengindahkan hal tersebut dan menganggap tawuran adalah masa lalu. Padahal, sampai saat ini masih terjadi.


Orang tua sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak, tentunya harus paham bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Selain itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui latar belakang lingkungan sekolah dan pergaulan seorang anak. Bullying adalah kasus yang unik, diperlukan kerja sama antara semua elemen, seperti orang tua, guru, dan masyarakat untuk mengatasi terjadinya bullying.


Ada beberapa strategi menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tanpa kekerasan.


Pertama, menyediakan sarana dan pra sarana yang memadai di lingkungan sekolah. Sarana dan prasarana dapat mendukung terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa. Di antara sarana dan prasarana seperti Unit Kesehatan Sekolah (UKS), taman bermain, dan perpustakaan.


Merujuk pernyataan Taufik Ismail yang berbunyi “Kenakalan remaja dipicu karena mereka tidak sibuk” Sri menerangkan bahwa itu maksudnya sibuk berliterasi. Maka, penting untuk sekolah dapat memberikan ruang-ruang pojok literasi untuk siswa. Hal tersebut juga didorong dengan peran seorang guru untuk bisa menumbuhkan minat membaca pada siswa.


Strategi selanjutnya yaitu teknologi yang mendukung, penguatan karakter, ekstrakurikuler, dan kepedulian orang tua. Selain guru dan teman di lingkungan sekolah, orang tua memiliki peran paling penting, terutama dalam menjaga komunikasi antara sekolah dan orang tua.


Guru sebagai tenaga pendidik di sekolah juga memiliki peran penting terutama dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Seorang guru tidak bisa memaksakan seorang siswa untuk merasa senang ketika guru itu sendiri tidak bisa menciptakan kenyamanan. Guru harus menganggap siswa sebagai subjek, sehingga bisa terjalin kerja sama antar guru dan siswa. Selain itu, guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.


Penulis : Nadiva Rahma

Editor   : Tria Patrianti



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa Prodi Ilkom UMJ Juara Favorit Duta Mahasiswa Anti Kekerasan 2023

  Dzaki Furqon (tengah), Mahasiswa Prodi Ilkom UMJ bersama Muara Wahyu Larasati (kedua dari kiri) Mahasiswa Universitas Yarsi saat menerima piagam Juara Favorit Duta Mahasiswa Anti Kekerasan DKI Jakarta tahun 2023 di Ruang Ballroom Luxury Inn Arion Hotel, Selasa (24/10/23). Dzaky Furqon, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ), terpilih menjadi juara favorit dalam Grand Final Pemilihan Duta Mahasiswa Anti Kekerasan 2023 pada Selasa (24/10/2023). Baca juga : Mahasiswa Ilkom UMJ Raih Juara 2 Lomba Podcast Tingkat Nasional Dalam acara yang digelar di Luxury Inn Arion Hotel, Jakarta, Dzaky bersaing dengan 33 finalis lainnya yang berasal dari 18 Perguruan Tinggi di DKI Jakarta. Pada babak ini juri memilih 12 finalis terbaik untuk melaju ke babak grand final hingga akhirnya terpilih Juara 1, 2, 3, dan Juara Favorit. “Saya berterimakasih kepada UMJ yang telah mendukung saya dalam ajang pemil...

Diskusi Internasional ILPOL FISIP UMJ Bahas Soal Tantangan Uyghur di China

  Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMJ, Dr. Asep Setiawan (kanan) dan Direktur Eksekutif Center for Uyghur, Mr. Abdul Hakim Idris (kiri) saat diskusi tentang uyghur di Ruang Rapat FISIP UMJ., Rabu, (25/10/2023). Program Studi Ilmu Politik  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta  (ILPOL FISIP UMJ) menggelar forum diskusi internasional dengan tema  Uyghur Challenges in China and Beyond,  di Ruang Rapat FISIP UMJ, Rabu, (25/10/2023). Baca juga :  Langkah Menghadapi Islamophobia terhadap Uyghur di China Uyghur merupakan kelompok etnis muslim yang tersebar di China. Saat ini Uyghur tengah dihadapkan dengan tantangan di wilayah Xianjiang, Tiongkok, baik domestik maupun international yang kompleks dan beragam tentang pelanggaran hak asasi manusia dan diplomasi. Pelanggaran hak asasi manusia meliputi penganiayaan berdasarkan identitas orang uyghur yang dilarang menjalankan agama dengan bebas. Selain itu pembatasan dari berbagai aspek kehi...

Mahasiswa FKM UMJ Belajar Budidaya Magot

Mahasiswa SEMESTA FKM UMJ Belajar Budidaya Magot di Bank Sampah Cluster Serua Indah, Tangerang Selatan, Sabtu (26/08/2023). Mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Semi Otonom  SEMESTA  FKM  UMJ  (Seruan Mahasiswa Peduli Kesehatan  Fakultas Kesehatan Masyarakat   Universitas Muhammadiyah Jakarta ) belajar budidaya magot di Bank Sampah Cluster Serua Indah, Sabtu (26/08/2023). Kegiatan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang budidaya magot ini, merupakan bagian dari rangkaian  Field Trip  yang diinisiasi Project Grup Penyehatan dan Penyelamatan Lingkungan SEMESTA FKM UMJ. Baca juga :  ERDAMS FKM Berikan Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Siswa SMA Al-Syukro Universal Didampingi oleh penggerak Bank Sampah Cluster Serua Indah, mahasiswa berkeliling ke rumah warga untuk mengambil sampah yang telah dipilah menjadi sampah organik dan anorganik, kemudian ditimbang dan dilakukan pencatatan. Selanjutnya, mahasiswa memperoleh edukasi te...