Langsung ke konten utama

Partisipasi Publik Dalam Layanan Deteksi Dini Dan Stimulasi Anak Di Masyarakat



Tulisan ini bisa menjadi catatan berulang dari tulisan saya terkait deteksi dini dan stimulasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di masyarakat. Beberapa riset yang dilakukan memang masih menyisakan berbagai persoalan terkait hal tersebut. Masih terdapat orangtua yang membutuhkan pengetahuan dalam mendiagnosa dan memberi stimulasi yang tepat pada buah hatinya yang spesial. Masih menjadi persoalan dalam melakukan deteksi dini terutama terkait biaya yang tidak sedikit menyebabkan orangtua enggan memeriksakan kesehatan puteri puterinya di tumbuh kembang anak. Karena orangtua sebagai bagian dari masyarakat yang perlu berperan serta dalam memberikan perhatian dan dukungan yang tepat sejak dini.

Masyarakat perlu diberi pemahaman tentang berbagai jenis kebutuhan khusus yang dapat dialami anak-anak. Sosialisasi melalui seminar, dan lokakarya, membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan stimulasi anak berkebutuhan khusus, mendeteksi tanda-tanda awal anak berkebutuhan khusus, seperti perilaku anak yang tidak biasa. Masyarakat dapat memberikan dukungan emosional kepada keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Dukungan masyarakat dapat mengurangi stigmatisasi dan isolasi yang dialami oleh keluarga.

Berdasarkan diskusi yang dilakukan antara tim pengabdian masyarakat UMJ dan Dinas Kesehatan Kota Depok, akan dilakukan layanan deteksi dini di Posyandu melalui program Posyandu inklusif.

Ketersediaan Posyandu menjadi solusi juga bagi Pemerintah kota Depok dalam melakukan pendataan jumlah ABK dan jenis masalahnya secara lebih akurat. Tahun 2022, data dari Dinas Kesehatan Kota Depok terkait anak berkebutuhan khusus di Kota Depok berjumlah 379 untuk semua usia dan semua jenis kekhususan, di mana ada 224 nya berusia anak-anak. Jumlah anak yang terdata ada 7% nya usia Balita dan 93% usia 6 – 18 tahun. Anak dengan gejala autism dan hambatan intelektual tercatat 4% usia Balita dan 34% Usia Anak. Kecilnya data Balita berkebutuhan khusus apalagi dengan kategori autis dan anak dengan hambatan psikis bisa jadi karena Kota Depok belum tervalidasi dalam pemetaan jumlah anak berkebutuhan khusus. Pemerintah Kota Depok menyadari kepentingan tersebut, dan bersama tim pengabdian masyarakat UMJ, dan mahasiswa KKN bekerjasama dalam melakukan pendataan jumlah anak berkebutuhan khusus di usia anak.

Deteksi dini menjadi parameter awal untuk kemudian dilakukan tindakan selanjutnya terkait kesehatan dan pendidikan anak di masa depannya. Pilihan sekolah, terapi dan program pengembangan anak lainnya, mau tidak mau menjadi perhatian Pemerintah terkait kesejahteraan warganya. Penanganan mereka memang bukan perkara singkat dimana kondisi pengembangan anak berkebutuhan khusus merupakan perjalanan panjang bagi orangtua.

Setiap tahap perkembangan anak memiliki tugas perkembangan yang unik dimana secara umum anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan dalam mengembangkan sejumlah keterampilannya. Mereka membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, banyak komunitas keluarga atau orangtua anak spesial yang memiliki program-program yang diperlukan oleh para orangtua. Memang tidak semua orangtua memiliki akses untuk bergabung dengan berbagai alasan; seperti ketidakpahaman dengan kondisi anak, kesibukan, masih belum menerima keberadaan anaknya yang spesial, masalah ekonomi, dan pengabaian lainnya. 

Keberadaan komunitas keluarga dengan anak spesial penting, mengingat para pengurusnya adalah orangtua yang telah memiliki pengalaman dalam mengasuh anaknya yang spesial. Beberapa dari pengurus memiliki sekolah untuk berbagi ilmu dan memenuhi kebutuhan orangtua karena memang tidak semua sekolah menerima keberadaan mereka, terutama anak-anak dengan kasus berat seperti anak autism, dan ADD/ADHD. Saat survey yang dilakukan tim ke SLB Negeri satu-satunya di Depok, menemukan data bahwa sekolah tersebut tidak menerima anak dengan kasus autism, dengan alasan tidak memiliki kemampuan untuk menangani anak autism.

Hasil diskusi antara lembaga dan Pemkot Depok bersepakat untuk membuat Forum Keluarga Spesial yang memayungi seluruh lembaga komunitas orangtua ABK di Depok, ditambah dukungan Perguruan tinggi. Kerjasama tersebut dirasa akan lebih efektif dalam melakukan sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini, dan pelatihan keterampilan pengasuhan anak di rumah. Orangtua yang terdidik akan memberi dukungan guru dan sekolah untuk keberhasilan pendidikan anaknya. Program deteksi dini dapat difasilitasi di Posyandu Inklusif atau para volunteer dari orangtua yang cukup memiliki pengalaman. Penanganan anak berkebutuhan khusus memang tidak bisa dilakukan secara parsial, kerjasama yang bisa dilakukan dalam implementasi layanan deteksi dini ini melibatkan Dinas kesehatan (Dinkes), Dinas Pendidikan (Disdik), dan Dinas Sosial (Dinsos). Kolaborasi itu tertuang dalam Perda Disabilitas yang sudah mulai diimplementasikan programnya di kota Depok tahun 2023.

Syiar kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus akan mendorong berbagai potensi kota Depok untuk melakukan berbagai upaya agar terealisasi sebagai kota ramah pada kaum disabilitas. Anak-anak dengan berbagai kasus anak berkebutuhan khusus mendapat layanan mulai dari kesehatan, pendididikan, dan peluang hidup mandiri dengan mendapatkan pekerjaan atau berusaha. Namun sebelum itu terwujud, masyarakat dapat secara mandiri melalui lembaga terkait, Pemerintah dan Perguruan tinggi melakukan kegiatan seperti pemeriksaan, pelatihan, dan konsultasi. Selanjutnya Forum lembaga orangtua spesial, Perguruan tinggi dan Pemerintah mendirikan pusat konsultasi bersama untuk membuat pusat layanan yang ditujukan untuk para orangtua yang miskin dan tidak mendapat akses layanan pemeriksaan tumbuh kembang anak, layanan stimulasi lanjutan berupa terapi dan konsultasi secara gratis atau bersubsidi.

Pendirian pusat terapi dapat dilayani secara gratis atau bersubsidi dengan mendapatkan bantuan dana CSR perusahaan, lembaga zakat dan kepedulian dari para donatur. Program ini dapat dilakukan dengan dimulai dari hal yang sederhana, secara bertahap dapat dilakukan hingga menuju kelengkapan fasilitas sehingga dapat menyasar secara menyeluruh semua kekhususan anak. Peran Posyandu inklusif dapat menjadi deteksi awal untuk mendapatkan data adanya anak dengan hambatan khusus, selanjutnya anak-anak ini mendapatkan pemeriksaan yang lebih instensif di pusat teraphy yang terdiri dari dokter, psikolog, terapis dan ahli pendidikan anak/pendidikan khusus. Melalui kolaborasi  dan partisipasi publik, semua program tersebut dapat terwujud dan terwujudnya kota Depok sebagai kota ramah untuk kaum disabilitas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Internasional ILPOL FISIP UMJ Bahas Soal Tantangan Uyghur di China

  Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMJ, Dr. Asep Setiawan (kanan) dan Direktur Eksekutif Center for Uyghur, Mr. Abdul Hakim Idris (kiri) saat diskusi tentang uyghur di Ruang Rapat FISIP UMJ., Rabu, (25/10/2023). Program Studi Ilmu Politik  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta  (ILPOL FISIP UMJ) menggelar forum diskusi internasional dengan tema  Uyghur Challenges in China and Beyond,  di Ruang Rapat FISIP UMJ, Rabu, (25/10/2023). Baca juga :  Langkah Menghadapi Islamophobia terhadap Uyghur di China Uyghur merupakan kelompok etnis muslim yang tersebar di China. Saat ini Uyghur tengah dihadapkan dengan tantangan di wilayah Xianjiang, Tiongkok, baik domestik maupun international yang kompleks dan beragam tentang pelanggaran hak asasi manusia dan diplomasi. Pelanggaran hak asasi manusia meliputi penganiayaan berdasarkan identitas orang uyghur yang dilarang menjalankan agama dengan bebas. Selain itu pembatasan dari berbagai aspek kehi...

Mahasiswa FTAN UMJ Melaju Final KEJURNAS Yamaha di Mandalika

eza Firdaus seusai babak Kualifikasi Kejuaraan Nasional Yamaha Sunday 2023, di Sirkuit Mandalika, NTB, 19-20 Agustus 2023. Reza Firdaus, mahasiswa  Fakultas Pertanian   Universitas Muhammadiyah Jakarta  (FTAN  UMJ ) sukses melaju ke Seri Final KEJURNAS (Kejuaraan Nasional) Yamaha Sunday 2023. Reza berhasil mengumpulkan sebanyak 35 poin atas kemenangannya di babak kualifikasi yang digelar di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, 19-20 Agustus 2023. Baca juga :  Mahasiswa FTAN UMJ Sabet Juara Umum KEJURNAS di Sentu l Mahasiswa Program Studi Agroteknologi ini berhasil mengumpulkan 35 poin dari pertarungan sengit di babak kualifikasi. Reza berada podium 3 pada  rac e  pertama, kemudian pada  race  kedua lebih baik lagi di podium 2. Reza mewakili DKI Jakarta bertarung dengan 14 pembalap lainnya yang berasal dari Bali, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT. Setelah babak kualifikasi, Reza akan kembali mengaspal di Seri Final p...

FKK UMJ Gelar Kuliah Umum Pendidikan Interprofesi

  kiri ke kanan, Guru Besar FK UI Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc, Sp.GK., Guru Besar Bidang Ilmu Kebidanan Unisa Yogyakarta Prof. Dr. Mufdilah, S.SiT., M.Sc., Guru Besar FK UI Prof. DR. Dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH., dan dosen Prodi Kedokteran FKK UMJ dr. Gladys Dwiani Tinovella Tubarad, M.Pd.Ked saat sesi diskusi dalam Kuliah Umum Pendidikan Interprofesi di Aula Dr. Syafri Guricci FKK UMJ, Rabu, (18/10/2023). Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) menggelar kuliah umum pendidikan interprofesi yang diikuti oleh mahasiswa FKK UMJ dari berbagai lintas prodi di Aula Dr. Syafri Guricci FKK UMJ, secara hybrid, Rabu, (18/10/2023). Baca juga : FKK UMJ Angkat Isu Stroke dalam Seminar Internasional Mengusung tema “Komunikasi dalam Pendidikan Interprofesional”, kuliah umum ini merupakan salah satu bentuk penerapan pendidikan Interprofesional di FKK UMJ sebagai istrategi untuk meningkatkan koordinasi antara pemberi pelayan...