Langsung ke konten utama

Model Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Madinah

 

Nabi Muhammad SAW adalah teladan ideal dalam seluruh aspek kehidupan. Di antara yang sangat penting untuk diteladani secara sungguh-sungguh adalah kepemimpinannya, baik dalam konteks kultural maupun politik. Nabi Muhammad SAW bukan hanya pemimpin agama, sebagaimana dipahami secara keliru oleh kebanyakan orang, tetapi Beliau sesungguhnya juga pemimpin politik. Mandat kepemimpinan politik ini sudah diterimanya sejak awal berhijrah ke Yatsrib.

Kepemimpinan politik Nabi Muhammad SAW ini telah berhasil membuat Yatsrib, yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah, menjadi sebuah negara yang jauh melampaui zamannya. Hal ini bahkan diakui oleh para peneliti Barat, di antaranya Robert N. Bellah.

Dalam kesempatan ini, kita akan berbincang tentang kepemimpinan Nabi Muhammad SAW tersebut bersama Dr. Mohammad Nasih, M.Si., seorang ahli pemikiran politik Islam yang mengajar di FISIP UMJ dan juga pengasuh dua pondok pesantren; Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang dan Pesantren Nurul Furqon (Planet NUFO) Rembang.

Apa model pendekatan yang digunakan Rasulullah SAW saat memulai memimpin Madinah?

Nabi Muhammad Rasulullah awalnya berdakwah di Makkah dengan jalan kultural. Beliau hanya mengajak kepada siapa saja agar mengikuti wahyu yang Beliau terima dari Allah SWT. Selama 13 tahun berdakwah dengan jalan itu, bisa dibilang hasilnya sangat minim. Bukan hanya menghadapi banyak penolakan, tetapi lebih dari itu menerima ejekan, tekanan, dan bahkan sampai berupa ancaman pembunuhan. Bersamaan dengan situasi dan kondisi yang sangat kritis, datang tawaran dari dua suku besar di Yatsrib, yaitu: Aus dan Khazraj, agar Nabi Muhammad berhijrah saja dan memimpin mereka. Jadi, dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin naturalisasi. Penyebabnya adalah Aus dan Khazraj sama-sama tidak mau menerima pemimpin dari pihak lain. Aus tidak mau orang dari Khazraj memimpin, demikian pula sebaliknya. Di saat bersamaan, mereka juga membutuhkan petunjuk yang pasti dan bisa memuaskan semua, karena dianggap berasal dari Allah, sebagaimana sebelumnya mereka dapatkan dari orang-orang Yahudi.

Apa yang dimaksud dengan petunjuk dari orang-orang Yahudi ini?

Jadi di Yatsrib ini ada cukup banyak orang Yahudi. Mereka sesungguhnya pendatang dari Syam. Mereka berpindah ke Yatsrib karena mendapatkan informasi bahwa akan datang Rasul terakhir ke tempat di antara dua lembah yang ditumbuhi banyak kurma. Mereka menganggap bahwa tempat yang memenuhi kriteria itu adalah Madinah. Maka mereka menunggu Rasul terakhir yang akan mereka jadikan sebagai pemimpin di Yatsrib. Orang Yahudi memiliki kitab. Sementara penduduk asli Yatsrib adalah orang-orang pagan. Jadi kalau muncul persoalan, biasanya mereka meminta pertimbangan kepada para pemimpin Yahudi agar diputuskan dengan kitab orang Yahudi. Dengan ketetapan itu, mereka mendapatkan kemantapan. Sebab, bukan berdasarkan subjektivitas orang perorang. Nah, dari orang-orang Yahudi pulalah mereka tahu bahwa akan ada lahir Rasul terakhir. Setiap kali mereka berseteru dengan orang Yahudi, dan Yahudi terdesak, maka orang Yahudi akan mengancam. Di antara kalimat ancamannya: ‘awas, kalau nanti Rasul yang terakhir itu datang dan memimpin kami, kalian akan kami binasakan sebagaimana binasanya Kaum Ad dan Iram.’. Mereka mengatakan begitu sambil menunjuk ke Selatan. Karena itu, ketika para elite Aus dan Kahzraj mendengar ada orang mengaku sebagai Nabi dan utusan Allah, mereka “menyalip di tikungan” mendatanginya, berbaiat kepadanya di Aqabah dua kali. Di antara isi kesepakatannya adalah menaatinya.   

Bagaimana kalau “taat“ di sini dipahami taat hanya dalam konteks agama saja?

Ya bisa saja awalnya begitu. Namun, dalam perjalanannya kemudian, dalam praktek kehidupan di Madinah, Nabi Muhammad tidak hanya dianggap sebagai pemimpin agama, tetapi memerankan peran sebagai pemimpin politik. Bagi saya, perubahan nama dari Yatsrib menjadi Madinah itu merupakan salah satu yang menegaskan bahwa Nabi bukan sekadar pemimpin agama, tetapi juga pemimpin negara. Sebab, Madinah secara kebahasaan berarti kota. Sama dengan polis dalam bahasa Yunani. Polis kan negara-kota atau city state. Madinah ya begitu itu. Karena memang baru kira-kira setahun di Madinah, Nabi sudah memimpin angkatan perang sehingga terjadi perang Badar, lalu perang Uhud, dan lain-lain. Sedangkan angkatan perang adalah di antara ciri penting sebuah negara. Jadi seluruh prasyarat yang diperlukan oleh sebuah negara, ada di Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad.

Bagaimana cara Rasulullah SAW memimpin Madinah sebagai sebuah wilayah pemerintahan, dilihat dari cara pengambilan keputusan, kebijakan, membuat program pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi, dan lainnya?

Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai pemimpin awalnya memang karena Beliau dipercaya oleh Kaum Aus dan Khazraj sebagai utusan Allah yang memiliki kitab. Sebab kekosongan dalam komunitas mereka adalah ketetapan dari Allah itu, sehingga membuat mereka potensial mengalami perselisihan jika ada masalah muncul. Dengan keberadaan ketetapan yang berasal dari Allah, mereka tidak perlu repot dan rebut lagi. Tinggal jalankan saja. Walaupun sebagian ahlul kitab, dalam konteks ini adalah Yahudi dan Nasrani, menolak kenabian Nabi Muhammad SAW, tetapi secara politik mereka tidak bisa menolak kepemimpinan Nabi. Sebab, Nabi Muhammad sudah dibaiat oleh kaum pribumi terbesar di Madinah. Ini adalah kesempatan yang digunakan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad untuk membangun kekuatan dengan cara membuat perjanjian yang kemudian terkenal sebagai al-Mîtsâq al-Madînah, atau Perjanjian Madinah.

Editor : Tria Patrianti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Internasional ILPOL FISIP UMJ Bahas Soal Tantangan Uyghur di China

  Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMJ, Dr. Asep Setiawan (kanan) dan Direktur Eksekutif Center for Uyghur, Mr. Abdul Hakim Idris (kiri) saat diskusi tentang uyghur di Ruang Rapat FISIP UMJ., Rabu, (25/10/2023). Program Studi Ilmu Politik  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta  (ILPOL FISIP UMJ) menggelar forum diskusi internasional dengan tema  Uyghur Challenges in China and Beyond,  di Ruang Rapat FISIP UMJ, Rabu, (25/10/2023). Baca juga :  Langkah Menghadapi Islamophobia terhadap Uyghur di China Uyghur merupakan kelompok etnis muslim yang tersebar di China. Saat ini Uyghur tengah dihadapkan dengan tantangan di wilayah Xianjiang, Tiongkok, baik domestik maupun international yang kompleks dan beragam tentang pelanggaran hak asasi manusia dan diplomasi. Pelanggaran hak asasi manusia meliputi penganiayaan berdasarkan identitas orang uyghur yang dilarang menjalankan agama dengan bebas. Selain itu pembatasan dari berbagai aspek kehi...

Mahasiswa FTAN UMJ Melaju Final KEJURNAS Yamaha di Mandalika

eza Firdaus seusai babak Kualifikasi Kejuaraan Nasional Yamaha Sunday 2023, di Sirkuit Mandalika, NTB, 19-20 Agustus 2023. Reza Firdaus, mahasiswa  Fakultas Pertanian   Universitas Muhammadiyah Jakarta  (FTAN  UMJ ) sukses melaju ke Seri Final KEJURNAS (Kejuaraan Nasional) Yamaha Sunday 2023. Reza berhasil mengumpulkan sebanyak 35 poin atas kemenangannya di babak kualifikasi yang digelar di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, 19-20 Agustus 2023. Baca juga :  Mahasiswa FTAN UMJ Sabet Juara Umum KEJURNAS di Sentu l Mahasiswa Program Studi Agroteknologi ini berhasil mengumpulkan 35 poin dari pertarungan sengit di babak kualifikasi. Reza berada podium 3 pada  rac e  pertama, kemudian pada  race  kedua lebih baik lagi di podium 2. Reza mewakili DKI Jakarta bertarung dengan 14 pembalap lainnya yang berasal dari Bali, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT. Setelah babak kualifikasi, Reza akan kembali mengaspal di Seri Final p...

FKK UMJ Gelar Kuliah Umum Pendidikan Interprofesi

  kiri ke kanan, Guru Besar FK UI Prof. Dr. dr. Abdul Razak Thaha, M.Sc, Sp.GK., Guru Besar Bidang Ilmu Kebidanan Unisa Yogyakarta Prof. Dr. Mufdilah, S.SiT., M.Sc., Guru Besar FK UI Prof. DR. Dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH., dan dosen Prodi Kedokteran FKK UMJ dr. Gladys Dwiani Tinovella Tubarad, M.Pd.Ked saat sesi diskusi dalam Kuliah Umum Pendidikan Interprofesi di Aula Dr. Syafri Guricci FKK UMJ, Rabu, (18/10/2023). Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) menggelar kuliah umum pendidikan interprofesi yang diikuti oleh mahasiswa FKK UMJ dari berbagai lintas prodi di Aula Dr. Syafri Guricci FKK UMJ, secara hybrid, Rabu, (18/10/2023). Baca juga : FKK UMJ Angkat Isu Stroke dalam Seminar Internasional Mengusung tema “Komunikasi dalam Pendidikan Interprofesional”, kuliah umum ini merupakan salah satu bentuk penerapan pendidikan Interprofesional di FKK UMJ sebagai istrategi untuk meningkatkan koordinasi antara pemberi pelayan...